Kamis, 06 Juni 2013

Solidaritas Buruh Tangerang Raya Ikut Demo Shinta Grup


 

Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
TANGERANG - Belum juga dipenuhi tuntutannya, ratusan buruh PT Shinta Grup yang sudah sejak 29 Mei lalu melakukan aksi mogok kerja bergabung dengan Buruh Tangerang Raya menggerebek perusahaan tekstil Shinta yang berada di Jalan Imam Bonjol, Karawaci, Kota Tangerang, Selasa (4/6/2013).

Bahkan, dalam aksi gabungan hari ini ratusan buruh berupaya menjebol pintu gerbang pabrik sebagai tanda kekecewaan buruh terhadap perusahaan yang tidak juga menyetujui permintaan buruh akan hak-hak ketenagakerjaannya.

Kordinator aksi Buruh PT Sinta grup, Asmawi mengatakan bahwa buruh sudah melakukan aksi mongok kerja sejak tanggal 29 Mei 2013 lalu. Akan tetapi, belum juga ada mendapatkan kesepakatan.

" Mediasi sudah dilakukan, akan tetapi pihak perusahaan belum juga mau menyetujui permintaan buruh, padahal ini adalah hak," kata Asmawi.

Dengan adanya aksi solidaritas yang di lakukan oleh aliansi buruh se-Tangerang Raya, dikatakan Asmawi makin memberikan dorongan dan semangat ke rekan-rekan buruh Shinta untuk terus memperjuangkan hak karyawan.

Sebelumnya diberitakan, ada lima point tuntutan yang diajukan karyawan dan hanya dua yang dipenuhi perusahaan. Point yang dipenuhi yaitu pembayaran kelebihan jam kerja dan jaminan kesehatan bagi karyawan kontrak.

Sementara, tiga point tuntutan yang belum disetujui adalah pemberlakuan upah sektoral UMK 2013, perhitungan bonus sesuai standar gaji, kejelasan sistem kerja kontrak sesuai undang-undang serta kenaikan uang shift 2-3.
Read More

Rabu, 05 Juni 2013



BPN Kabupaten Tangerang Mulai Terapkan Service Exelent

BPN RIKantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang, yang berada di komplek Perkantoran Pemda Kabupaten Tangerang, Jalan Abdul Hamid, Kav.8, Kecamatan Tigaraksa, terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.

Dengan mengusung motto “melayani dengan cepat, akurat, untuk kepuasan masyarakat”,  lembaga yang khusus menangani persoalan tanah itu bertekad ingin mulai menerapkan layanan prima atau Service Excelent kepada masyarakat, khususnya yang berada diwilayah naungannya, seperti Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Kepala Kantor BPN Kabupaten Tangerang, Sudaryanto mengatakan, penerapan layanan prima atau service excelent ini, bertujuan untuk memanjakan masyarakat sebagai konsumen. Selain itu, layanan prima ini merupakan sampul dari semua layanan yang ada di BPN setempat.
“Dengan mengusung motto pegawai “tiada hari tanpa perubahan, satukan tekad meningkatkan pelayanan dengan transparan, cepat, tepat, cermat, akuntable dan berkeadilan”, kami akan selalu siap untuk melayani masyarakat,” ungkap Sudaryanto, Senin (3/6/2013).
Untuk menunjang peningkatan program pelayanan prima tersebut, BPN Kabupaten Tangerang juga telah mempersiapkan berbagai sarana penunjang, mulai dari program layanan hingga peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Ya, program Service Excelent yang diusung BPN meliputi 3 item layanan, masing-masing layanan One Day Service, Quick Wins Service dan Weekend Service.
Untuk mendukung program tersebut, BPN juga telah menyiapkan sejumlah petugas cantik pada loket pelayanan dan petugas bersafari di depan loket pelayanan. “Petugas bersafari akan menjawab setiap pertanyaan pemohon,” ujar Sudaryanto lagi.
Semua program yang diterapkan itu, lanjut Sudaryanto, bertujuan agar masyarakat sebagai pemohon merasa puas dan nyaman. Para pegawai juga, diwajibkan untuk memberikan Senyum, Salam dan Sapa (3-S).

Read More

Read More

Mereka yang mendulang rezeki di tahlilan Uje

Mereka yang mendulang rezeki di tahlilan Uje

Album ujeSelain ribuan jamaah yang memadati kediaman almarhum Ustadz Jefry Al Buchori di Bukit Mas, Rempoa, Tangerang Selatan, sejumlah pedagang juga tak mau melewatkan peluang rezeki lewat tahlilan 40 hari tersebut.
Di antara sejumlah pedagang, Mahfudz (30) yang mengasong cakram padat (cd) yang berisi lagu-lagu ustadz gaul tersebut mengaku tahlilan uje merupakan momen yang ditunggu-tunggu untuk memperoleh penghasilan lebih besar dari hari biasanya.
“Kita kan ngeliat momennya, banyak jamaah yang datang karena Uje adalah public figure sebagai seorang ulama yang dicintai berbagai lapisan masyarakat,” katanya di pelataran Kediaman Almarhum Ustadz Uje di Bukit Mas, Rempoa, Tangerang Selatan, Senin.
Mahfudz biasanya menjual cakram padat cd sejarah islam, rasul itu memperoleh penghasilan yang lebih ketika berjualan pada tahlilan 40 hari Uje.
“Ini aja, saya ngasong dari jam 2 udah tinggal lima keping dari 100 keping. Cuma itungan jam,” katanya.
Di hari-hari biasanya, ia biasanya, mendapatkan Rp100 ribu sehari, namun ketika di tahlilan Almarhum Uje dia sudah mengantongi Rp500 ribu.
Dia menjual satu keping cd senilai Rp10 rupiah, lebih mahal dua kali lipat dari cd yang ia jual sehari-hari yakni Rp5 ribu per keping.
“Kalau di pangkalan kan ada uang keamanan dan kebersihannya. Ya mudah-mudahan semua dagangan bukan cuma saya aja pada laku, bisa mengambil keberkahan dari almarhum,” katanya.
Demikian Amir (55) yang mengatakan tahlilan 40 hari merupakan momen yang ditunggu untuk berjualan.
“Dari dulu udah ‘ngudag’ (ngejar) 40 hari ini, udah dengar-dengar dari pedagang lain,” tuturnya.
Amir yang sehari-hari berjualan kacamata, kali ini dia menjual pernak-pernik yang berkaitan dengan Alm. Uje, seperti kalender, foto, gantungan kunci, buku, tasbih dan cd.
“Kita harapannya sih dapat duit, tapi ikut sekalian tahlilan biar dapat pahala juga,” katanya.
Azis (30) juga mengaku penghasilannya melonjak dua hingga tiga kali lipat ketika berjualan di momen-momen yang berhubungan dengan Uje.
Dia menjual foto Uje dengan berbagai ukuran dan kualitas. Dua foto ukuran lebih kecil dibanderol Rp5 ribu untuk, sementara untuk satu foto menggunakan kertas foto asli diharagai Rp10 ribu.
“Ini foto saya ambil dari Internet, terus di-print,” katanya.
Dia bisa mengantongi lebih dari Rp1 juta rupiah dengan menjajakan foto Uje dan keluarga kepada para jamaah yang membeludak.
“Biasanya cuma Rp100-Rp200 ribu aja sehari-hari,” katanya.
Dia menuturkan, bukan hanya di sekitar jamaah Uje, barang dagangnya laku, tetapi di tempat lain seperti pesantren dan pasar malam juga tak kalah diminati pengunjung.
“Malah lebih ‘greget’ kalau di luaran karena mereka mungkin gak bisa dateng ke rumahnya Uje dan ingin memiliki fotonya,” katanya.
Read More